Image Background
header
Umum P I L K A D A
P I L K A D A
Penduduk Jakarta telah memilih kepala daerahnya, dan hasilnya sudah kita ketahui. Sebagian orang kaget dan kecewa, bukan karena yang kalah adalah petahana, tetapi bahwa yang kalah adalah seorang petahana yang justru berhasil dalam masa pemerintahannya. Keberhasilannya ini diakui bahkan oleh saingannya (antara lain, dengan menyatakan akan melanjutkan sebagian kebijakan Basuki T. Purnama). Bagi sebagian pendukung Gubernur Basuki, ini sungguh sulit diterima. Kenapa orang bersih dan berhasil justru kalah?
Dua minggu sebelum pilkada DKI putaran kedua, saya duduk berbincang dengan satu orang tua yang sangat bijak, dan memiliki analisa yang tajam terhadap kehidupan. Dia adalah seseorang yang sangat berhasil dalam usahanya. Kami ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal ringan. Lalu pembicaraan beralih ke politik. Saya menjadi penanya dan pendengar. Bapak itu lebih banyak bercerita.
Apa pendapat bapak tentang pilkada putaran kedua?
Jawaban beliau:
“Hidup kita tidak boleh tergantung kepada siapa yang menjadi gubernur. Mau si X atau Y yang menjadi gubernur, hidup terus berjalan. Jadi tidak perlu terlalu ribut.”
Ini mungkin bisa diperdebatkan, tapi jelas dia memiliki cara pandang yang membuat hidupnya lebih tenang dan usahanya bisa lebih maju. Dia tidak terlalu membiarkan hidup dan bisnisnya terlalu banyak dikontrol oleh hal-hal yang di luar kendalinya. Dia tidak terlalu banyak protes dan mengeluh tentang keadaan. Dia berfokus pada apa yang bisa dia lakukan. Pantas saja orang ini sukses.
Lalu dia berkata: “Orang yang percaya Tuhan hidupnya seharusnya tidak pernah panik atau takut. Anda percaya Tuhan itu ada dan berkuasa, kenapa anda harus takut? Anda harusnya hidup tenang…” (Ada amin?)
Mz 27:1: Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
Lanjut…
Bagaimana kalau Basuki kalah?
Jawaban beliau:
“Paling tidak, musuh-musuh politik Basuki telah memberikan dia hadiah besar: pengendalian diri. Ini adalah satu hal yang harus ada pada orang-orang besar. Selama ini Basuki kekurangan hal ini. Emosi terlalu menguasai dia. Yang kedua adalah: kerendahan hati. Kekalahan akan membawa Basuki memperbaiki dirinya sehingga dia bisa jadi akan berbuat lebih banyak buat bangsa. Kesombongannya akan berkurang. Kemarin-kemarin dia ada sedikit sombong. Sekarang kelihatan membaik. Dia mau belajar. Itu tanda bagus.”
Bagaimana kalau Anies menang?
Jawaban beliau:
“Mungkin saja ini bisa menjadi awal kejatuhannya. Kita tidak pernah tahu. Jabatan sering kali menjadi tempat kejatuhan banyak orang. Tapi kita doakan siapapun yang menjadi gubernur DKI, orang itu akan berhasil.
Ketika musibah datang, jangan merasa susah berlebihan, mungkin berkat sedang menyusul sebentar lagi. Ketika berkat lagi datang, jangan senang berlebihan, mungkin musibah sebentar lagi muncul. Nikmati hidup saja. Hari ini kita bisa ngobrol di sini sambil minum kopi… yah, mari kita nikmati saja pak sukirno… hidup nggak usah terlalu dibuat susah…”
Mungkin ada yahng bilang si bapak ini tidak punya iman akan kebaikan dan kemurahan Tuhan, tidak percaya perlindungan Tuhan dll. Memang beliau bukan anak Tuhan. Tetapi apa yang dia katakan ini adalah common-sense, hikmat kehidupan, sehingga orang tidak akan terlalu gampang terombang-ambingkan oleh gelombang kehidupan. Sebab memang demikianlah realita hidup. Jangan-jangan si bapak ini membaca kita Pengkhotbah?
Pkh 3:1-10:
1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,...
Jadi? Para pendukung Basuki jangan terlalu galau, jangan jadi kacau…siapa tahu dari sini karir politiknya justru melejit makin tinggi.
Mari kita sambut dan doakan Gubernur dan Wakil Gubernur kita yang baru, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Semoga Jakarta menjadi bertambah baik di tangan mereka berdua.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT