Image Background
header
Umum PARA PEMBUNUH SADIS
PARA PEMBUNUH SADIS
Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yisreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. Lalu datanglah Izebel, istrinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak mau makan?”
1 Raj 21:4-5

Dalam film “The Curious Case of Benjamin Button”, Brad Pitt bermain sebagai seorang pria yang lahir sudah berumur 70 tahun, lengkap dengan kumis jenggot dan uban. Semakin hari dia semakin muda, sampai akhirnya meninggal sebagai bayi! Barangkali ada yang mau seperti itu? Tambah hari tambah muda kan asyik? Kalau ada yang tertarik, coba pikirkan hal ini: setiap hari anda juga akan menjadi semakin bodoh!
Kalau Benjamin Button tadi tambah muda secara fisik, secara mental ada kasus yang mirip: Atlantic Monthly melaporkan adanya seorang wanita berumur 40an yang mendadak bertingkah laku seperti anak kecil dari hari ke hari, sampai suatu hari menjadi seperti bayi, tidur meringkuk dan tidak bisa bicara.
Dua cerita di atas adalah anomali, sesuatu yang di luar kebiasaan. Seharusnya semakin lama, seseorang bertumbuh semakin dewasa, bukan sebaliknya. Tetapi ada banyak kasus di mana seseorang bertambah tua secara umur, tetapi secara kejiwaan dia tidak bertumbuh alias tetap kekanak-kanakan.
Dalam suatu perkawinan, ketidakdewasaan atau sifat kekanak-kanakan adalah sesuatu yang bisa terjadi dan bisa berbahaya. Raja Ahab adalah contohnya, seperti yang kita kutip di atas. Capek rasanya hidup dengan seseorang yang kekanak-kanakan: tidak bertanggung-jawab, selalu merengek dan menuntut, pembosan, selalu perlu diperhatikan dan dilayani, emosi tak terkendali…
Menjadi dewasa berarti, antara lain:
⇒ Belajar memegang komitmen. Tidak berubah-ubah, mencla mencle. Bertanggung jawab. Kata-kata dan janjinya bisa dipegang, termasuk janji dia di hadapan Tuhan sewaktu dia dipersatukan dengan pasangannya.
⇒ Belajar menghadapi kekecewaan dalam hidup. Hidup tidak selalu seperti yang kita harapkan. Tidak semua hal kita dapat. Seorang yang dewasa akan menerima hal tersebut sebagai bagian kehidupan. Dia tidak merajuk, mutung, merengek.
Perhatikan kutipan Alkitab di atas: Raja (!) Ahab merajuk gara-gara permintaannya tidak dituruti. Dia langsung masuk kamar, nggak mau keluar-keluar dan nggak mau makan. Alamak… Tidak heran istrinya menguasai dia.
Bagaimana caranya menjadi dewasa?
Menjadi dewasa adalah proses pertumbuhan. Semua kita lahir sebagai anak-anak, baik secara fisik maupun secara mental. Menjadi dewasa memerlukan waktu dan proses. Dalam hal ini, apa bila seorang suami atau istri ternyata tidak dewasa, yang menjadi pendampingnya harus memiliki kesabaran ekstra dan memberikan kesempatan. Ini yang berat. Kita mengira dan berharap kita menikah dengan seseorang yang dewasa, sementara kenyataannya tidak demikian.
Dari satu sisi, Alkitab mengatakan bahwa:
Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. (Rom 15:1)
Pihak yang dewasa dan kuat harus memperhatikan yang lemah.
Menjadi dewasa adalah proses pembelajaran. Waktu saja tidak cukup untuk seseorang menjadi dewasa. Ada yang sudah berumur 50 tahun tapi masih kekanak-kanakan. Harus ada yang mengajar seseorang menjadi dewasa. Harusnya orang tua yang mengajar, baik secara langsung maupun dengan sikap/gaya hidup mereka. Masalahnya, kadang-kadang ada orang tuanya sendiri kekanak-kanakan! Ada juga orang tua yang bermaksud baik dan berupaya dengan segala cara melindungi anak-anak mereka sampai anak-anak mereka sudah punya anak! Anak-anak demikian menjadi tidak dewasa, selalu bergantung kepada orang tua. Karena orang tua tidak mengajar, maka orang tersebut belajar dari kehidupan. Kehidupan adalah guru yang kejam dan keras. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang gagal akan menjadi orang yang pahit dan tetap atau bahkan semakin kekanak-kanakan.
Pelajaran-pelajaran terbesar dalam kehidupan biasanya terjadi melalui masalah, bukan keberhasilan. Sambutlah masalah kehidupan sebagai guru yang akan mendewasakan kita. Dengan demikian, masalah dalam kehidupan tidak boleh ditakuti, tidak boleh dicari, tetapi juga tidak boleh ditinggal lari. Semua itu terjadi untuk membuat kita meninggalkan pola pikir dan pola tingkah laku kekanak-kanakan. – pst
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT