Image Background
header
Umum R  A  C  U  N
R A C U N
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
(Ef 4:31)

Sianida dulu tidak dikenal orang awam, sampai terjadi kasus pembunuhan dengan membubuhkan racun ini ke dalam kopi Vietnam di warkop bule di mal Indonesia. Mendadak si ani ida ini jadi terkenal.
Sebelumnya, Botulinum Toxin yang bikin heboh. Ini adalah racun paling keras di dunia. Tetapi racun ini justru disuntikkan ke wajah ibu-ibu yang ingin wajahnya licin tambah muda. Suntikan ini memiliki efek menghilangkan kerut. Namanya Botox.
Menurut dr. Philippus Aureolus Theophrastus Bombastus von Hohenheim (panggilan singkat: Paracelsus) dari Swiss, semua zat di dunia ini adalah racun, apabila dosisnya berlebihan. Contoh: pernahkah sdr mendengar orang yang mati karena terlalu banyak minum air? Nama kondisi ini adalah hyponatremia, di mana kadar garam dalam tubuh orang tersebut menurum tajam karena dia minum air terlalu banyak, sehingga bisa mengakibatkan kematian. ‘Efek Paul Bert’ adalah nama untuk kondisi keracunan oksigen.
Jadi? Racun ada di mana-mana…termasuk dalam jiwa manusia…
Racun ini dijelaskan oleh Rasul Paulus di Ef 4:31: kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, kejahatan.
Racun-racun ini tidak kalah jahatnya dengan sianida, botulinum dan num num yang lain. Sianida dan teman-temannya merusak badan, tetapi racun di Ef 4:31 ini merusak jiwa dan roh.
Apa yang mengerikan dari racun-racun rohani ini?
 Bekerja pelan-pelan. Racun fisik macam sianida langsung terasa efeknya. Korbannya akan segera mencari pertolongan. Racun rohani lain lagi. Bekerjanya halus sekali. Yang keracunan biasanya tidak merasa keracunan. Dia merasa bahwa apa yang dia simpan itu biasa, bukan racun. Ini terjadi karena racun-racun ini terlalu banyak terlihat, sehingga lama-lama kita jadi biasa. Di film silat, racun kegeraman ada pada para pendekar, setelah di awal film dibonyokin oleh para preman. Di sinetron, kepahitan dan pertikaian menjadi tontonan seru. Di parlemen dan politik, pertikaian dan fitnah terlihat nyata. Bagi penginap racun rohani, racun-racun ini tidak berbahaya. Atau malah korbannya ini sering kali merasa racun ini memang mesti ada. Pernah dengar ada yang bilang begini: kalau saya tidak marah-marah, mereka tidak akan gerak? Barangkali benar. Tapi kalau tiap hari anda mesti marah-marah, lama-lama anda jadi kena racun kemarahan.
 Daya hancur racun rohani hebat sekali. Dia bisa merusak jiwa manusia dan menghambat pertumbuhan rohaninya. Dia bisa menghancurkan perusahaan, rumah tangga, gereja, hubungan dll. Teman akrab jadi musuh; suami istri dipisahkan; teman kantor dianggap saingan; sesama barisan koor saling tengking.
Kata Rasul Paulus, jangan simpan semua racun ini. Segera buang semuanya. Bagaimana caranya?
Satu: Akui saudara memiliki racun itu: saya mengakui bahwa saya memang menyimpan kepahitan/kegeraman/dll. Ini bagian terberat. Tidak banyak orang memiliki keberanian untuk mengakui hal ini. Kita berani mengaku kalau kita memiliki sifat nekat (Saya mah orangnya nekat…); Kita tidak ragu mengaku kita sering kali tidak peduli (ah… belajar cuek sama yang begituan…). Tapi tidak banyak orang yang mau dan berani mengaku bahwa dia punya, contoh, kepahitan. Kebanyakan orang akan menyangkal (saya tidak punya kepahitan, sekalipun saya disakiti.) atau melakukan pembenaran (saya memang ada kepahitan, tapi itu karena dia keterlaluan.).
Sebagian orang merasa bahwa pengakuan adalah kelemahan. Padahal pengakuan adalah langkah awal perubahan dan kesembuhan. Yesus datang untuk orang sakit, bukan untuk orang sehat. Masalahnya: banyak orang sakit yang merasa dirinya sehat. Orang-orang demikian tidak akan pernah datang ke dokter, sementara penyakitnya bertambah parah.
Dua: Buang racun itu. Buatlah pernyataan dalam doa saudara: saya tidak mau terus menyimpan racun ini. Dalam nama Yesus, saya buang racun ini dari diri saya.
Tiga: Lakukan langkah selanjutnya yang diajarkan Paulus di Ef 4:32: Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Ampuni orang yang bersalah, bertindaklah dengan ramah kepada orang, pasang senyum, bicara dengan lembut. Ingatlah bahwa kita sendiri adalah orang-orang yang sudah diampuni oleh Kristus. Karena itu kita wajib mengampuni orang yang bersalah terhadap kita.
Kesembuhan, kesehatan, damai sejahtera dan sukacita akan menyertai hidup saudara begitu saudara mentaati Firman Tuhan di Ef 4:31-32.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT