Image Background
header
Umum R E S I K O
R E S I K O
R E S I K O

Segala hasil kerjaku dan pendapatanku tak akan ada gunanya bagiku,
sebab aku harus meninggalkannya kepada penggantiku.
Dan siapa tahu apakah dia arif atau bodoh?
Pkh 2:17-18 (BIS)

Seorang pria buta menelpon penulis terkenal Philip Yancey dan menceritakan kisah yang menghancurkan hati. Dia berbaik hati memberikan tumpangan kepada seorang pria yang sedang mengalami kesusahan. Bukannya terima kasih yang dia dapat. Pria tersebut justru berselingkuh dengan istrinya dan akhirnya istrinya kabur dengan pria itu. Kisah ini tragis tetapi menunjukkan satu hal tentang kehidupan.

Hidup adalah mengambil resiko. Mengambil resiko adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, sekalipun beberapa orang melakukannya tanpa sadar atau berpikir. Kenyataan ini dimunculkan dalam sebuah puisi anonim yang berjudul “To Risk”. Saya kutip sebagian puisi ini:
Tertawa adalah mengambil resiko terlihat bodoh
Menangis adalah mengambil resiko terlihat cengeng
Mencoba adalah mengambil resiko gagal…

Pendeknya, segala sesuatu dalam hidup ini mengandung resiko.
Mengasihi orang adalah mengambil resiko ditolak oleh orang atau kasih kita dimanfaatkan oleh orang yang kita kasihi, seperti kisah orang buta di atas.
Mengampuni orang adalah resiko. Bisa saja pengampunan kita dimanipulasi oleh orang tersebut.
Kebaikan tertinggi sekalipun mengandung resiko. Kita bisa saja berbuat baik untuk orang lain dan kebaikan hati kita dimanfaatkan orang lain.
Percaya adalah resiko. Kita bisa dikecewakan atau ditipu oleh orang yang kita percaya.

Resiko tidak bisa dihindari, seperti kutipan Pengkhotbah di atas. Dia sudah berjerih lelah membangun kerajaan-Nya. Setelah itu dia akan meninggal. Siapa yang tahu penggantinya nanti seorang yang bijak atau bodoh? Siapa yang tahu kerajaannya akan tetap bertahan atau hancur? Tapi dia tetap harus menyerahkan semua kepada seorang pengganti. Resiko tidak bisa dihindari, sebab tidak mengambil satu resiko bisa saja membawa resiko lain yang lebih besar.

Allah sendiri mengambil resiko dengan memberikan kehendak bebas kepada manusia yang diciptakannya. Karena kehendak bebas itu, manusia memiliki kebebasan untuk mentaati perintah Allah atau justru melawan Dia.

Tetapi berlainan dengan manusia, Allah mengambil resiko bukan karena terpaksa. Bagi kita manusia, resiko adalah sesuatu yang terpaksa kita terima. Kalau bisa dia tidak ada dalam hidup kita. Allah tidak demikian. Dia mengambil resiko karena Dia mengasihi kita. Dia tetap mengambil resiko itu sekalipun Dia tahu bahwa manusia ciptaan-Nya bisa memberontak terhadap Dia.

Pertanyaan penting buat kita adalah: apakah dengan semua resiko ini kita masih tetap mau tertawa, menangis, mencoba, mengasihi, mengampuni, percaya?
Dalam jawaban kita terletak kunci hidup kita: apakah kita akan menjalani hidup yang bebas merdeka atau hidup yang terikat oleh ketakutan dan kelumpuhan.

Kalau kita mengatakan: sekalipun ada resiko, saya akan tetap percaya, mengasihi, mengampuni, maka kita sedang menyatakan bahwa kita tidak mau terikat kepada ketakutan yang melumpuhkan kita. Kita memilih untuk bebas!

Banyak orang membuat diri mereka terperangkap dalam penjara buatan mereka sendiri. Mereka menjadi sinis, pahit dan dendam karena pernah dikecewakan, dimanipulasi atau ditertawakan. Mereka lalu berkata:
Saya tidak akan mau percaya lagi karena saya sudah dikecewakan…
Saya tidak akan pernah jadi orang bodoh lagi dengan mengampuni orang…
Saya tidak akan mau bicara lagi karena saya pernah ditertawakan….

Berikut ini puisi dari Kent Keith berjudul ‘Anyway’:
Manusia adalah egois, tidak logis, mau menang sendiri. Sekalipun demikian, tetaplah cintai mereka.
Kalau kamu berbuat baik, orang akan menuduhmu memiliki motif menguntungkan diri sendiri. Sekalipun demikian, tetaplah berbuat baik.
Kalau kamu sukses, kamu akan mendapat teman palsu dan musuh sejati. Sekalipun demikian, tetaplah berusaha sukses.
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini akan dilupakan besok. Sekalipun demikian, tetaplah berbuat baik.
Kejujuran dan keterbukaan membuat kamu mudah diserang. Sekalipun demikian, tetaplah jujur dan terbuka.
Pria wanita besar dengan ide besar bisa dijatuhkan oleh pria wanita picik dengan pikiran sempit. Sekalipun demikian, tetaplah berpikir besar.
Apa yang kamu bangun bertahun-tahun bisa dihancurkan dalam satu malam. Sekalipun demikian, tetaplah membangun.
Orang benar-benar membutuhkan pertolongan tapi bisa balik menyerang kalau kamu menolong mereka. Sekalipun demikian, tetaplah tolong mereka.
Berikan yang terbaik kepada dunia dan kamu akan ditendang. Sekalipun demikian, tetaplah berikan yang berbaik.

Lakukanlah yang terbaik dan sesuai Firman Tuhan dalam hidup saudara, dan serahkan sisanya (termasuk segala resiko) kepada Dia yang maha tahu dan maha adil.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT