Image Background
header
Umum S E R I U S
S E R I U S
Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan. – Ibr 12:28-29

Satu bangunan unik menonjol di halaman hotel yang pernah saya tempati di Bali. Di taman yang asri dan terkesan modern itu, ada satu bangunan berbentuk kuno, yaitu pura pemujaan agama Hindu. Bangunan itu menjadi menonjol karena warnanya hitam di taman yang hijau dan tembok taman yang kuning pucat. Di tambah lagi bangunannya tinggi melebihi semua tanaman yang ada. Di tiap hotel di Bali pasti ada bangunan pura semacam ini, tidak perduli siapa pemilik hotel tersebut.
Di halaman depan rumah orang Hindu Bali pasti ada tempat pemujaan, baik rumah itu adanya di Bali ataupun di Lampung atau di tempat lain. Mereka tidak minder, juga tidak risih dan juga tidak merasa terganggu dengan adanya tempat tersebut. Orang Bali adalah orang yang serius dengan keyakinan iman mereka.
Bisakah kita-kita ini belajar dari orang Bali dalam hal yang satu ini?
Keseriusan dalam hal ibadah adalah hal serius dalam iman kekristenan. Di Perjanjian Lama, keseriusan ini terlihat dalam hal ritual ibadah orang Yahudi. Ada langkah-langkah terperinci dalam ibadah; imam harus dari suku tertentu; tempat ibadah di lokasi tertentu; korban persembahan harus memenuhi kriteria ketat, tidak boleh sembarangan; dll…
Di Perjanjian Baru, perubahan terjadi. Kata Yesus, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem…” Lokasi tidak lagi menentukan. Ritual berbelit dihilangkan. Hubungan yang diutamakan: Dia adalah Bapa, kita adalah anak-anak-Nya.
Hal ini bisa membuka peluang untuk orang-orang datang kepada Tuhan dengan sikap casual alias sembrono/asal-asalan. Pakaian sembrono; sikap sembrono; gaya sembrono; … Ini berlaku untuk jemaat dan pendeta. Pendeta persiapan sembrono, khotbah sembrono, doanya ikut sembrono, gayanya bermaksud guyon tapi jadinya sembrono, …
Penulis Ibrani menuliskan suratnya kepada orang-orang yang sedang menghadapi krisis iman; mereka ditekan untuk kembali ke agama lama mereka. Sang penulis mendorong mereka untuk tetap kuat dalam Tuhan. Anehnya di kutipan di atas, dia tidak mengatakan ‘ah…kita mah santai saja lah, Tuhan kita ngga nuntut apa-apa…’ Dia malah mengatakan: Allah kita adalah api yang menghanguskan. Apa itu tidak membuat orang malah menjauh?
Sama sekali tidak. Di Ibr 12:18-24, dia mengingatkan betapa tak tersentuhnya Allah di Perjanjian Lama. Tetapi melalui Yesus, Pengantara perjanjian baru, kita dibawa kepada ‘… Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah…’ Meriah tetapi serius: marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.
Karena itu, marilah kita serius dengan iman kita. Salah satu caranya adalah dengan kita serius ketika kita datang beribadah.
Pertama, datanglah dalam doa. Setiap kali saya ke gereja, saya berdoa supaya Tuhan memberkati setiap orang yang hadir dalam ibadah, dan supaya Tuhan memakai saya menjadi berkat. Tentu ada orang-orang yang rohaninya sudah tinggi sekali, sehingga mereka tidak perlu berdoa. Saya belum sampai ke tingkat itu. Saya masih perlu berdoa.
Kedua, datanglah dengan hati. Memang ada waktu-waktu di mana kita rasanya malas ke gereja. Mungkin hari itu hujan deras, enak sekali kalau dibawa tidur 1 jam lagi. Mungkin badan lagi tidak enak. Tapi kita paksakan diri. Ketika di gereja, beribadahlah dengan hati. Kalau menyanyi, mari menyanyi sungguh-sungguh. Kalau waktunya mendengar Firman Tuhan, mari dengarkan dengan sungguh-sungguh. Mari berdoa dengan sungguh-sungguh. Mari memberi dengan sungguh-sungguh. Ngga gampang loh jadi Tuhan. Dia tahu persis isi hati kita. Jadi ketika kita menyanyi untuk Dia dengan malas-malasan, Dia tahu. Bagaimana rasanya menerima pujian yang tidak tulus? Sebal kan…? Rasanya ingin tutup mulutnya orang itu dan berkata: “Eh, kalau kamu memang nggak niat, diam aja deh…”
Ketiga, datanglah untuk berbakti. Kita memang akan diberkati ketika kita datang beribadah kepada Tuhan. Kita tidak mintapun, Tuhan akan tetap memberkati kita. Tetapi sikap kita ketika datang haruslah bukan untuk mendapat sesuatu tetapi untuk menyatakan bakti kita kepada Juru Selamat dan Tuhan kita. Jadi, fokus kita adalah Tuhan, bukan manusia, entah itu orang lain maupun diri kita. Kita datang dengan ucapan syukur bukan untuk mendapat berkat, tetapi justru karena sudah mendapat berkat.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT