Image Background
header
Umum S  I  M   P  A  T  I
S I M P A T I
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
(Rom 12:15)
Ketika tim sepak bola Jerman kalah 2-0 dari tim Korea Selatan dan tersingkir dari Piala Dunia 2018, salah satu hal yang mengagetkan adalah betapa banyaknya orang yang senang dengan kejadian ini. The Sun, koran Inggris, menulis berita utama tentang kekalahan ini dengan judul berita berupa satu kata: “Schadenfreude”. Schadenfreude adalah kata dalam bahasa Jerman yang sering dipakai bahkan dalam tulisan yang bukan dalam bahasa Jerman. Arti ‘schadenfreude’ adalah: kesenangan yang didapat dari kemalangan orang lain. Dengan kata lain: senang lihat orang susah.
Barang kali saudara pernah mengalami hal ini. Senangnya bukan main melihat orang sok dan sombong dipermalukan. Puasnya bukan main mendengar berita musuh kita tabrakan. Sebaliknya, alangkah sebalnya mendengar saingan kita itu menang lotere.
Ok…ok… saya tahu, saya tahu, saudara tidak begitu. Yang saya maksud adalah nabi Yunus. Ketika dia melihat Tuhan mengampuni penduduk Niniwe, dia bukannya senang mendengar orang bertobat, dia malah jengkelnya bukan main. Ah… rupanya nabi juga manusia…
Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma yang sedang mengalami pergesekan dalam jemaat antara jemaat Yahudi dan non-Yahudi. Dalam rangka menyatukan mereka, Paulus memberikan nasihat yang kita kutip di atas: Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Ini adalah cara ampuh untuk membangun hubungan. Jangan seperti koran The Sun, jangan seperti Yunus: susah lihat orang senang, senang lihat orang susah. Seorang pengikut Kristus harus mengembangkan empati: senang lihat orang senang, susah lihat orang susah.
Empati adalah menempatkan diri kita di posisi orang, sehingga kita bisa, sampai batas tertentu, merasakan bagaimana menjadi orang tersebut. Empati berasal dari 2 kata bahasa Yunani: ‘en’ (di dalam) dan ‘pascho’(menderita). Ada yang bilang bukan ‘pascho’ tapi ‘pathos’ (merasakan).
Dari empati, orang harus bergerak ke simpati.
Menurut konkordansi Alkitab NAS, simpati berasal dari dua kata bahasa Yunani: ‘sun’ (bersama) dan ‘pascho’ (menderita). Jadi, simpati lebih dari sekedar turut merasakan. Simpati bahkan turut menderita bersama. Jadi, simpati mengambil tindakan, tidak hanya ‘omdo’. Siapa teladan kita dalam hal ini?
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibr 4:15)
Dalam bahasa Yunani, kata-kata ‘turut merasakan kelemahan-kelemahan kita’ adalah ‘sympathesai’. Jadi, Imam Besar kita, yaitu Yesus Anak Allah, bukanlah imam besar yang tidak bisa bersimpati terhadap kelemahan kita. Dia BISA berempati sekaligus bersimpati. Dia bukan Allah yang jauh disana. Dia adalah Immanuel, Allah yang beserta dengan kita. Bahkan Dia adalah Allah yang berdiam di dalam diri kita.
Hal ini membawa konsekuensi yang dahsyat sekali. Ini dinyatakan oleh penulis Ibrani di dalam ayat selanjutnya: Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibr 4:16)
Kita didorong dan diajak untuk berani datang kepada Dia yang bertahta. Kenapa kita diminta berani saja, jangan takut?
Pertama karena Dia tidak akan menertawakan, meremehkan, mengabaikan tangisan dan keluhan kita kepada Dia. Kenapa begitu? Karena Dia sudah merasakan pencobaan, sama seperti kita. Bedanya: Dia tidak jatuh ke dalam dosa. Itu sebabnya kita jangan takut untuk jujur dalam doa kita, menceritakan semua pergumulan kita melawan dosa, membeberkan kegagalan kita dan kegalauan jiwa kita.
Kedua, karena nama tahta-Nya adalah ‘tahta kasih karunia’. Dari tahta-Nya terpancar aliran deras kasih karunia. Dalam kata ‘kasih karunia’ ada unsur ‘perkenanan kepada yang tidak layak menerima’. Jadi, sekalipun kita masih jatuh bangun, Dia tetap menyatakan kasih karunia-Nya kepada kita. Kita sadar akan kekurangan kita. Kita sadar bahwa kita tidak layak datang kepada Tuhan di tahta kudus-Nya. Tapi Tuhan kita adalah Tuhan Kasih Karunia. Maka kita berani datang menghadap Dia, sujud menyembah dan mengajukan permohonan kita. Dan Dia akan menjawab doa kita tepat pada waktunya.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT