Image Background
header
Umum S Y P P S
S Y P P S

Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yoh
8:11
Belum lama ini saya mendengarkan siaran Radio Pelita Kasih (RPK).
Topik acara adalah tentang para bintang lm yang memiliki
pekerjaan sampingan sebagai PSK atau Pekerja Seks Komersil.
Pembawa acara membahas perkataan seseorang yang disebut MM,
yang rupanya mengutip satu perkataan Yesus. Karena MM ini
bukanlah orang Kristen, dia menyebut Yesus dengan sebutan Nabi
Isa. Menurut MM ini, kita tidak boleh menyerang orang-orang yang
memakai ‘jasa’ para selebriti yang punya pekerjaan sampingan ini
(kita sebut saja para seleb ini sebagai SYPPS alias Selebriti Yang
Punya Pekerjaan Sampingan). Mengapa jangan menyerang? Karena
Nabi Isa pernah diminta memberikan fatwa tentang satu orang
perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Dan Nabi Isa
berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia
yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Jadi, kata
MM, kita semua juga bukan orang suci yang tak pernah berbuat
dosa, maka kita tidak berhak menyerang mereka yang memakai
jasa SYPPS.
Apakah anda, pembaca, setuju dengan pendapat MM ini?
Kalau anda tidak setuju, anda bisa dituding berseberangan dengan
Yesus.
Kalau anda bilang setuju, anda bisa dituding toleransi dengan
dosa… serba salah…
Mari kita lakukan bedah kasus. Dan kita akan lihat, bahwa kisah di
Yohanes 8 ini berbeda dengan kisah SYPPS.
Perempuan ini berdosa? Jelas lah… wong ketangkap basah…
Apakah dia harus dihukum? Ya iyalah… orang salah ya dihukum.
Tapi…tapi…mana prianya ya? Kan berselingkuh tidak mungkin
sendirian. Ini kasus mirip-mirip kasus KPK, ketangkap tangan sedang
transaksi. Kenapa si pria tidak dibawa sekalian untuk dirajam?
Disinilah ketidakadilan terjadi. Dua orang berbuat salah, hanya satu
yang dihukum.
Ditambah lagi, jelas sekali wanita ini dipakai sebagai alat untuk
menjatuhkan Yesus. Dia sekarang menjadi pion dalam pertempuran
teologia. Farisi tahu bahwa Yesus memiliki tempat di hati untuk
mereka yang tertindas dan tersisihkan. Kalau Yesus membela wanita
berdosa ini, mereka akan punya amunisi untuk menembak Dia






sebagai orang yang mentolerir dosa dan melawan hukum Taurat.
Kalau Yesus menyatakan setuju wanita itu dirajam, maka reputasi
Yesus sebagai pembela kaum lemah akan hancur, dan Farisi
mendapat pembenaran.
Jadi, para ahli Taurat dan Farisi sebenarnya bukanlah benar-benar
ingin menegakkan kebenaran, tetapi ingin menjatuhkan Yesus
melalui wanita ini. Ini yang membuat tindakan mereka menjadi
salah.
Mereka juga ingin wanita ini dihukum mati, bukan ingin dia hidup
benar.
Apakah perbedaan antara wanita ini dan SYPPS? Wanita ini
dihukum, para SYPPS justru dilindungi! Dua kasus ini berbeda
sekali…
Bukankah Yesus juga akan memiliki simpati dan membuka hati
untuk para SYPPS?
Saya rasa benar… Yesus memiliki hati untuk para SYPPS.
Seandainya nama-nama yang muncul di media itu memutuskan
untuk bertobat dan mencari pertolongan kepada Dia, kita tahu
bahwa Yesus akan mengampuni dosa mereka.
Tapi bagaimana dengan para pembeli ‘jasa’ SYPPS? Adakah tempat
di hati Yesus untuk mereka juga?
Saya percaya bahwa kalau mereka bertobat sungguh-sungguh, ada
juga tempat bagi mereka. Kunci dari semua ini ada pada perkataan
Tuhan Yesus kepada wanita itu: "Akupun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Masalah dengan para pemakai jasa SYPPS adalah: mereka sering
kali menyesal tapi jarang bertobat. Mereka menyesal ketika
ketahuan. Selama tidak ketahuan, mereka tenang tenang saja.
Kalau hanya menyesal saja, suatu hari mereka akan mengulang lagi
perbuatan salah mereka.
Bertobat adalah berbeda: sekalipun tidak ketahuan, kita tetap
memutuskan untuk berubah dan berhenti melakukan dosa.
Saya rasa kita tetap harus menyuarakan penentangan kita terhadap
dosa tetapi kita menghendaki supaya setiap orang yang berbuat
dosa bisa berubah dan hidup dalam kebenaran. Memang kita adalah
mantan orang berdosa. Dosa kita sudah diampuni dan disucikan.
Sekarang kita hidup benar di hadapan Tuhan. Tetapi kalau hidup kita
masih tidak beres, memang benar kita tidak punya hak menghakimi
atau menghukum orang lain yang melakukan dosa yang sama
dengan yang kita perbuat. Kiranya Tuhan menolong kita dan
menguatkan kita semua. Amin!

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT