Image Background
header
Umum SESAK & LEGA
SESAK & LEGA
Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. – Mz 118:5

Selama berbulan-bulan, berjuta-juta saudara-saudari kita di Sumatera, Kalimantan dan tempat-tempat lain mengalami gangguan pernafasan karena asap dari hasil pembakaran lahan gambut. Selama berbulan-bulan, berbagai cara di coba oleh pemerintah untuk menolong mereka, tapi percuma. Sampai hujan akhirnya turun dan kelegaan terjadi.
Ketika saya membaca kisah mereka yang mengalami asap, dan sempat mendengar langsung cerita dari mereka, saya membayangkan betapa mengerikannya bernafas di tengah kepungan asap yang berasa panas dan mengandung partikel-partikel ukuran mikron yang bisa mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Puluhan orang mati karena sesak nafas, sebagian di antara mereka adalah anak kecil dan bayi.
Sungguh tidak enak mengalami gangguan nafas. Kalau banjir kita masih bisa mentolerir. Kalau macet kita masih bisa sabar. Tapi kalau susah bernafas…, alangkah beratnya. Nafas yang semula kita lakukan tanpa pikir dan usaha mendadak menjadi susah.
Saudara mungkin pernah mengalami rasa sesak di dada, sekalipun bukan sedang terjebak di tengah kepungan asap kendaraan bermotor di jalan macet di Jakarta atau asap pembakaran lahan gambut, tapi terjebak di masalah kehidupan.
Pemazmur di Mazmur 118 sedang sesak nafas. Dia berkisah bagaimana dia sedang terkepung oleh musuh-musuhnya yang seperti lebah. Nyawanya terancam. Dia bersaksi bagaimana dia tertolak sampai jatuh. Dalam kesesakan itu dia berseru kepada Tuhan. Dan Tuhan memberi dia kelegaan.
Beberapa orang yang sedang dalam kesesakan tidak merasa perlu Tuhan.
Beberapa orang yang sedang dalam kesesakan malah marah sama Tuhan.
Beberapa orang yang sedang dalam kesesakan justru lari dari Tuhan.
Tetapi kebanyakan orang yang ada dalam kesesakan berseru kepada Tuhan. Kata lain untuk ‘berseru’ adalah ‘berteriak’. Tuhan mendengarkan teriakan mereka dan menggantikan kesesakan mereka dengan kelegaan.
Bayangkan yang namanya ‘kelegaan’. Setelah berhari-hari saudara sesak nafas, mendadak suatu hari saudara gampang bernafas. Atau seperti orang yang berhari-hari diikat, lalu dilepas. Leganya bukan main. Tetapi ada satu bahaya yang mengancam orang yang berseru kepada Tuhan dalam kesesakan. Kisah berikut ini menjelaskan.
Ada 4 ateis dan 1 Kristen KTP yang naik ke sebuah kapal kecil untuk pergi ke satu pulau. Di tengah perjalanan, badai melanda mereka. Dalam keadaan kepepet, para ateis memohon yang Kristen untuk berdoa minta pertolongan Tuhan. Semula dia tidak mau. Badai tambah mengamuk. Akhirnya dia terpaksa berdoa. Ini doanya, “Tuhan, selama 15 tahun terakhir ini aku nggak pernah ganggu Tuhan, nggak pernah berdoa satu kalipun. Kalau Tuhan tolong kami sehingga selamat sampai ke pantai, aku janji nggak akan ganggu Tuhan selama 20 tahun berikut.”
Cerita ini menggambarkan satu hal. Sering kali orang hanya mencari Tuhan karena butuh pertolongan-Nya saja. Mereka menjadikan Tuhan sebagai alat mereka. Tuhan sering kali dipakai sebagai Satpam Agung; Juru Parkir Agung; Pembantu Agung…
Saya bukan berkata saudara tidak boleh berdoa minta perlindungan Tuhan. Hanya saja, kalau lagi tidak butuh perlindungan, saudara berdoa atau tidak?
Saya bukan berkata saudara tidak boleh berdoa minta tempat parkir kosong. Hanya saja, kalau lagi tidak butuh tempat parkir, saudara berdoa atau tidak?
Memang Tuhan itu sumber pertolongan bagi kita…
Memang Dia mau menjawab teriakan kita…
Hanya saja…
Setelah tempat parkir didapat, setelah pertolongan diberikan, apakah saudara masih mencari wajah Tuhan? Atau selesai begitu saja? Lain kali perlu tempat parkir kosong lagi baru berdoa?
Tuhan itu memberikan kelegaan; Dia melepaskan kita dari kesesakan. Tetapi jangan mencari Tuhan hanya ketika kita sedang dalam kesesakan. Carilah Dia bahkan ketika hidup kita nyaman, masalah sedang absen, keuangan lancar jaya, keluarga aman tenteram… Itulah yang Tuhan inginkan dari anak-anak-Nya; itulah yang menyenangkan hati Bapa kita yang di surga…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT