Image Background
header
Umum SETENGAH ATAU SEPENUH HATI?
SETENGAH ATAU SEPENUH HATI?
SETENGAH HATI ATAU SEPENUH HATI

"Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, hanya tidak dengan segenap hati." (2 Taw 25:2)
Kisah Raja Amazia adalah kisah yg memilukan, kisah orang baik yg hidupnya berakhir menyedihkan. Amazia tidak berbuat apa yg jahat, orangnya pemaaf, hidupnya benar. Ia melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan: beribadah, memberi, menghargai orang, membantu orang susah, berdoa, tetapi dengan satu catatan kecil: TIDAK DENGAN SEGENAP HATI. Komentar pendek, tapi mematikan… Raja Amazia akhirnya mati dibunuh oleh rakyatnya sendiri ketika dia melarikan diri dari kudeta.
Bagaimana rasanya menghadapi orang yang setengah hati: pernah punya pegawai yang bekerja setengah hati? Pernah ketemu pelayan toko yang melayani kita dengan setengah hati? Berdiri menyandar ke tembok, kaki disilang, mata melirik ke layar HP sambil menjawab pertanyaan kita?
Bagaimana hasil kerja orang yang setengah hati: maukah anda tinggal di rumah yang dibangun dengan setengah hati? Lantainya dicor setengah hati, fondasinya dibangun setengah hati, kabel listrik dipasang setengah hati.
Apa-apa yang setengah hati memang bikin susah: kerja setengah hati; belajar setengah hati; jalan-jalan setengah hati; jadi orang tua/suami/istri setengah hati; jadi pendeta setengah hati; jadi jemaat setengah hati; doa setengah hati; ikut Yesus setengah hati, panas tidak dingin juga tidak.
Hardikan Yesus keras sekali terhadap mereka yang setengah hati di Laodikia:
Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (Why 3:16)
Bandingkan dengan pujian Alkitab terhadap raja Hizkia di 2 Taw 31:20-21:
(20) Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. (21) Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.
Ikut Yesus tidak bisa setengah hati, sama seperti hidup benar juga tidak bisa setengah hati. Sebab: SETENGAH BENAR adalah sama persis dengan TIDAK BENAR. HAMPIR BENAR adalah sama dengan SALAH. Benar adalah 100%.
Bayangkan ada orang berkata begini: “Saya orang yang ngga macem-macem, berusaha hidup benar, rajin ibadah. Saya juga suami yang baik yah... Saya selalu ada di rumah. Saya bekerja keras, mencukupkan semua kebutuhan keluarga saya. Saya memberi waktu untuk istri dan anak-anak. Cuma, 2-3 bulan sekali saya pergi berselingkuh…” Apakah ini suami yang baik?
Atau yang begini: “Saya rajin berdoa, ibadah. Puasa juga sering. Alkitab saya baca tiap hari. Saya juga rajin memberi untuk orang miskin. Saya pelayanan sejak 3 tahun lalu, jadi aktifis. Cuma, beberapa tahun sekali saya masih ke gunung X untuk minta petunjuk ke orang pintar di sana, pengin tahu aja gimana nasib saya ke depannya…” Akankah anda mengatakan ini orang yang sepenuh hati ikut Tuhan?
Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak bisa berbuat salah atau semua orang harus sempurna. Saya meyakini bahwa selama kita masih hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, selama kita masih berdiam di kemah jasmani ini, kita masih mungkin berbuat salah. Tetapi adalah berbeda antara berupaya hidup benar tapi masih bergumul dengan sudah tahu salah tapi masih dilakukan dengan tenang hati. Semua ini kembali kepada hati.
Segenap hati berbicara tentang komitmen. Kita mengambil satu tekad di hadapan Tuhan untuk hidup benar di hadapan Dia. Kita minta Dia memberikan kita kekuatan untuk melakukannya.
Segenap hati berbicara tentang totalitas, memberikan yang terbaik. Kalau saya memiliki 10 jurus tetapi hanya memakai 8 jurus, itu bukan segenap hati. Dalam totalitas saya melakukan apa yang menjadi bagian saya dengan semua daya saya.
Segenap hati berbicara tentang penghargaan dan sikap hormat, baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Kalau saya melakukan tugas saya sebagai pendeta dengan segenap hati, saya menyatakan penghargaan dan hormat saya kepada Tuhan yang sudah memanggil saya, kepada jemaat yang saya layani, dan kepada diri saya. Kalau saya melayani dengan setengah hati, saya tidak menghargai dan menghormati Tuhan yang memanggil saya, jemaat yang saya layani, dan diri saya sendiri.
Semua kita belum sempurna. Semua kita masih bergumul dengan kelemahan kita. Tapi marilah kita minta bantuan Roh Kudus, yang akan menyempurnakan kita dan membawa kita kepada seluruh kebenaran…
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;… (Yoh 16:13)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT