Image Background
header
Umum T A H A N
T A H A N
24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. 26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1 Kor 9)

Pernahkah saudara menonton pertandingan Olimpiade, dan berkata dalam hati, “Kayaknya kalo cuma kayak gitu, aku juga bisa sih…”? Kelihatannya apa yang atlit Olimpiade itu biasa-biasa saja.
Koran Boston Globe mengirim seorang wartawan ke satu tempat di Vermont untuk mengetahui bagaimana caranya menjadi seorang pemenang medali Olimpiade. Olahraga yang dilihat adalah snowboarding, meluncur dengan papan di salju. Begini catatan wartawannya.
Untuk menjadi seorang juara snowboarding pada level internasional, seseorang harus mulai pada umur 13-15 tahun. Lebih dari itu sudah terlalu tua. Pada musim dingin, ketika kita paling ingin berlindung di balik selimut hangat, para atlit muda ini sudah bangun waktu subuh, latihan perenggangan, menonton video latihan yang kemarin, latihan di salju sampai makan siang, masuk kelas untuk belajar pelajaran sekolah, latihan lagi, makan malam, lalu masuk kelas untuk belajar satu setengah jam. Sering ada jeda satu jam, bukan untuk istirahat, tapi untuk membikin PR alias pekerjaan rumah. Pada musim panas, mereka beralih ke bumi selatan untuk mendapatkan musim dingin lagi. Ini diulang bertahun-tahun.
Secara umum, para atlit Olimpiade menghabiskan 8 jam sehari dalam 7 hari seminggu untuk latihan. Tidak hanya badanya harus tahan, lebih penting lagi jiwa dan mentalnya harus tahan juga. Perjuangan keras bertahun-tahun. Cidera dan luka adalah biasa. Kebosanan menjadi bagian kehidupan. Masa remaja dikorbankan. Orang tua ikut berkorban dengan pindah rumah dan ganti pekerjaan. Biaya latihan mahal sekali. Demi satu medali dan nama besar. Tentu bersama dengan medali itu, ada juga uang yang berlimpah…tetapi itu biasanya hanya untuk beberapa tahun saja. Setelah itu? Orang melupakan mereka. Pernah dengar nama Nicolas Massu? Tidak pernah? Dia pemegang 2 (dua) medali emas untuk olahraga tenis di Olimpiade thn 2004 di Athena.
Rasul Paulus jelas bukan olahragawan. Orang Yahudi jaman itu tidak suka dengan olahraga Olimpiade yang dilakukan oleh orang-orang Yunani. Salah satu penyebabnya adalah karena atlit jaman itu harus bertanding dalam keadaan telanjang. Tapi juga karena orang Yahudi lebih menaruh perhatian kepada hal-hal yang rohani.
Sekalipun demikian, Rasul Paulus memakai ilustrasi dari bidang olahraga, seperti yang kita lihat dari kutipan ayat di atas. Dia menyamakan pengiringan kita kepada Tuhan seperti orang yang sedang bertanding. Dua jenis pertandingan dia sebut: lari dan tinju.
Mungkin saudara tidak pernah berpikir bahwa ikut Yesus bisa disamakan dengan orang yang bertanding. Saudara berpikir asal percaya saja sudah cukup, tinggal tunggu eskalator ke surga. Tetapi inilah metafora yang dipakai oleh Alkitab. Atau lebih jelas lagi di 1 Tim 4:10:
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.
Kita berjerih payah dan berjuang justru karena kita menaruh pengharapan kepada Juruselamat kita. Kalau untuk meraih medali fana dan kemuliaan sesaat saja, para atlit Olimpiade bersedia berjuang bertahun-tahun dan berkorban banyak sekali, betapa lagi kita yang menantikan kemuliaan yang kekal dan mahkota yang abadi dari Tuhan kita.
Serangan akan datang untuk membuat kita menjadi lemah. Serangan dari pihak kuasa kegelapan dan juga dari orang-orang yang masih belum mengalami kasih Allah. Sebab kalau mereka mengalami kasih Allah, hidup mereka akan diubahkan.
Saudara sekalian, kita semua harus bertahan, tidak boleh menyerah, bahkan maju terus ketika kesulitan datang dan masalah muncul beramai-ramai dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Kita punya Juru Selamat yang luar biasa. Ketika Dia harus menghadapi salib yang menyakitkan dan memalukan, Dia bergumul, tetapi kemudian maju terus. Kita punya Juru Selamat yang menjadi contoh buat kita. Janganlah kita putus asa dan menyerah, tetapi menujukan mata kita kepada Dia, yang sudah menjalani semua penderitaan buat kita.
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. (Ibr 12:3)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT