Image Background
header
Umum T   A   K   U   T
T A K U T
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Tim 1:7)
Semua orang tahu apa namanya takut. Rasa takut sudah tertanam dari sejak kita bayi. Dia menjadi sifat manusia, bahkan sering kali menjadi insting. Bayi mendadak menangis ketakutan ketika melihat orang asing yang mau memeluk dia, padahal si oom itu lagi senyum manis, pendeta lagi... Apa orang tuanya pernah ajar dia begitu? Rasanya tidak. Tanpa tahu atau lihat apa-apa, mendadak bulu kuduk kita berdiri. Pernah merasakan begitu?
Saya takut tinggi. Karena itu saya memutuskan untuk mendaki bagian lengkung atas jembatan pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge). Tinggi di bagian puncak adalah 100 meter (kira-kira setinggi bangunan 33 lantai). Kalau dari bawah tidak kelihatan terlalu tinggi, sampai saudara berdiri di atas sana dan melihat ke bawah. Mobil-mobil seperti mobil mainan lalu lalang. Manusia berukuran semut beraktifitas. Kaki mendadak lemas, tangan mendadak basah (itu keringat entah datang dari mana). Rasanya mau kabur. Tapi mau kabur kemana? Ke laut?
Saya memutuskan untuk melakukan hal yang saya takuti ini karena, kata orang bijak, hadapilah ketakutanmu. Dan kamu akan menemukan bahwa sebenarnya itu tidaklah terlalu menakutkan. Makanya saya mendaki jembatan itu. Hasilnya? Ya, saya masih takut tinggi sih… Tapi paling tidak, saya sudah mengalahkan ketakutan akan ketinggian di satu lokasi: jembatan pelabuhan Sydney. Saya bersedia mendaki lagi jembatan itu, asal ada yang bayarin. Tapi saya juga tahu, pas di bagian puncak jembatan, ketika kita harus menyeberang dari lengkung satu ke lengkung lainnya, saya tetap akan ketakutan. Insting saya memberitahu saya akan adanya bahaya di bagian itu. Dan itu memang benar. Bagian itu bisa berbahaya. Berapa besar bahayanya? Sebenarnya tidak besar-besar amat. Setahu saya, dari ribuan pengunjung, belum ada yang jatuh dan mati di bagian itu. Tapi insting tidak mau tahu. Pokoknya ada bahaya. Dalam hal ini, ketakutan sebenarnya melindungi kita dari bahaya. Jadi? Ketakutan sebenarnya ada gunanya, dalam kasus tertentu.
Tetapi ketakutan akhirnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia menjajah kita dan mengatur kita, dan sering kali membuat kita lumpuh. Contoh hal ini bisa terlihat pada saat jembatan kaca terpanjang dan tertinggi di dunia diresmikan minggu lalu. Jembatan ini terletak di dekat kota Zhangjiajie, propinsi Hunan, Tiongkok. Orang-orang mendadak lemas karena takut ketika berjalan di jembatan itu. Ada bapak-bapak yang menangis-nangis panggil mama saking ketakutannya di atas jembatan kaca itu.
Ketakutan bukanlah sesuatu yang ada pada diri manusia ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa. Maka kata Rasul Paulus di 2 Tim 1:7 itu benar: Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,…
Apa yang saudara takutkan dalam hidup ini? Masa depan? Kesehatan? Keuangan? Jodoh?
Sering kali yang kita bilang ‘takut’ sebenarnya adalah ‘kuatir’. Kuatir tidak sekuat perasaan takut. Kalau saudara sehat-sehat saja selama ini, seharusnya saudara tidak ada alasan takut akan kesehatan. Kalau saudara masih punya pekerjaan, seharusnya tidak takut ada masa depan. Tapi sering kali kita masih kuatir.
Takut adalah satu tingkat di atas kuatir. Di atasnya takut ada yang namanya panik. Panik adalah ketakutan yang melumpuhkan. Rasio dan akal sehat terbang menghilang ketika panik muncul. Semua ilmu semua kartu tidak berguna ketika panik menerpa.
Di atasnya panik adalah paranoid. Panik adalah sesaat, paranoid terus menerus ketakutan, bahkan ketika tidak ada alasan untuk ketakutan.
Ketakutan sering kali tidak masuk akal. Hal ini karena ketakutan sifatnya emosional dan spiritual. Seperti kata Rasul Paulus tadi: Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,… Artinya: ketakutan adalah roh. Dan karena dia bukan dari Allah, maka ketakutan adalah roh jahat.
Bagaimana cara melawannya?
Terimalah roh yang berbeda: roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Kekuatan: dalam bahasa Yunaninya adalah dunameos, yang akar katanya adalah ‘dunamis’. Dari dunamis kita mendapat kata ‘dinamit’. Jadi ini adalah kekuatan yang eksplosif, bisa membuat ledakan. Ketika kita menyadari kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita, ketakutan akan lenyap.
Kasih: asal kita mengasihi, ketakutan akan hilang. Kata 1 Yoh 4:18: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Ketertiban: dari kata bahasa Yunani ‘sophronismou’. Kata ini bisa diterjemahkan sebagai ‘penguasaan diri’. Jadi kita menguasai diri kita, bukan ketakutan yang menguasai diri kita.
Mari kita terima ROH yang mendatangkan ke tiga hal ini: kekuatan, kasih dan penguasaan diri. Caranya? Minta dari Dia melalui doa.
Dengan demikian, ketakutan tidak akan lagi menguasai kita. Amin.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT