Image Background
header
Umum T  I  M  P  U  K
T I M P U K
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
(Yoh 8:7)

Kisah di Injil Yohanes pasal 8:1-11, tentang wanita yang tertangkap basah berselingkuh lalu diampuni oleh Yesus, adalah kisah yang memusingkan para ahli teologia. Salah satu penyebabnya adalah karena cerita ini memberikan kesan seolah-olah Yesus membiarkan dosa.
Kalau dipikir-pikir ya iya juga. Ada orang yang tertangkap basah berselingkuh. Perhatikan: tertangkap basah. Bukan isu bukan gosip. Bukan diduga, bukan disangka. Pelaku tidak bisa memberikan alasan seperti: ‘O…kami baru saja mengolah enerji matahari sampai basah kuyup dan mau ganti baju’; atau ‘Maaf, kami sebenarnya sedang latihan transfer ilmu tenaga dalam’. Ini sudah terang benderang. OTT alias Operasi Tangkap Tangan oleh KPKP (Komisi Pemberantasan Kegiatan Perselingkuhan). Ada BB alias barang bukti berupa baju yang sudah dilepas. Ada saksi mata yang mengintip… maaf…memergoki.
Yang wanita dibawa kepada Yesus (yang pria kemana ya?) oleh kelompok ahli Taurat dan Farisi, bukan untuk mencari keadilan dan kebenaran, tapi menjadikan wanita ini sebagai pion dalam pertarungan teologis. Mereka ingin memojokkan Yesus.
Mereka mulai dengan mengutip hukum Taurat: Yoh 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Kalau Yesus berkata Dia setuju dengan Musa, mereka akan merasa menang, karena mereka menganggap diri mereka sebagai penerus Musa. Tapi yang lain akan teriak: “Bukankah Engkau, Yesus, selama ini berbicara soal pengampunan dan belas kasihan? Kok sekarang beda?”
Kalau Yesus berkata Dia tidak setuju dengan Musa, mereka akan langsung menuduh Dia sebagai perusak Firman Tuhan dan mendorong orang berbuat dosa. Maju kena, mundur kena. Kiri nyenggol, kanan nabrak.
Menurut Alkitab, Yesus tidak menjawab, Dia diam lalu menulis di tanah. Kalau saya jadi Yesus, saya akan balik bertanya: “Apa hak anda bertanya? Apa urusannya dengan anda hah?!?”
Kenapa Dia diam? Bingung yah? Tidak. Ini teknik perang urat syaraf. Biarkan musuhmu bertanya-tanya dan menunggu. Mereka akan jadi gelisah sendiri dan tegang karena menunggu itu tidak enak. Jadi mereka mendesak terus dan tambah penasaran.
Lalu Yesus mengucapkan kalimat pamungkas yang kita kutip di atas: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Yah…barangsiapa yang tidak berdosa, silahkan timpuk batu pertama…
Rupanya kata-kata itu terkena ke mereka. Satu persatu putar badan… batal menimpuk. Aahh…masih ada harapan buat mereka…nurani masih didengar.
Lalu Yesus berkata kepada perempuan itu: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
Kebanyakan orang hanya membaca kalimat pertama dan langsung berteriak: ‘Waahh…dosa dibiarin. Gauuwwattt!! Kacau Yesus ini!’
Tapi kita harus ingat akan dua hal. Satu, kalimat Yesus yang berikutnya: … Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Dua, beberapa waktu kemudian Yesus maju ke kayu salib dan menebus dosa wanita itu.
Yesus bukan membiarkan dosa. Dia justru datang ke dunia untuk menghancurkan cengkeraman dosa atas hidup manusia. Kisah ini bukan kisah Yesus yang membiarkan dosa, tetapi Yesus yang mengasihi pendosa. Yesus yang bersedia memberikan kesempatan kedua kepada para pezinah, dan perampok, dan pembunuh, dan penyuap, dan penipu, dan pencuri…
Untuk mengapresiasi cerita ini, tempatkanlah dirimu di dalamnya. Siapakah saudara dalam kisah ini? Pilihan hanya ada dua: para penuduh atau yang dituduh.
Hari-hari ini, alangkah gampangnya kita mengambil batu dan mengambil ancang-ancang untuk menimpuk mereka yang salah. Mereka ada di mana-mana. Di rumah kita ada, di gereja kita ada, di kantor ada, bahkan di TV juga ada! Ehh… itu dia tuh…Mana batunya? Timpuk!
Yesus tidak ikut menimpuk…
Tapi pak, kan dia melanggar perintah Yesus juga? Dia melakukan dosanya untuk kedua kali!
Yah memang dia melakukannya untuk kedua kali. Tapi silahkan, lemparkan batumu kalau kamu juga tidak pernah mengulang dosamu!
Pelajaran utama kisah ini bukan soal wanita itu, atau pria itu, bersalah atau tidak, tapi apakah saya sendiri bersalah atau tidak. Kalau yakin dirimu tidak pernah berdosa atau mengulang dosamu, TIMPUK!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT