Image Background
header
Umum T O L E R A N S I
T O L E R A N S I
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. (Rom 14:1-3)

Kata ‘toleransi’ menjadi makin penting di masa menjelang pilkada atau pilpres, di mana berbagai kepentingan beradu dengan ganas, dan ambisi akan kekuasaan membuat sebagian politisi bisa tergoda untuk memakai segala cara untuk menduduki jabatan, termasuk menyebarkan intoleransi.
Intoleransi memiliki kekuatan. Dia mampu membawa persatuan dan memberikan arah. Itu sebabnya intoleransi sering dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Tetapi harga yang harus dibayar intoleransi sangatlah mahal. Intoleransi mematikan rasio dan mengobarkan emosi. Nalar atau akal sehat melemah ketika intoleransi datang. Intoleransi perlu musuh, baik itu musuh nyata maupun ‘musuh’ hasil rekayasa. Hubungan yang baik menjadi rusak karena intoleransi; kawan jadi lawan; sahabat harus dibabat; keluarga dan sesama dinista.
Intoleransi sering muncul karena dikipasi oleh orang-orang yang picik, berpikir jangka pendek, mementingkan ambisi pribadi. Padahal intoleransi adalah tanda kelemahan. Sebab akar intoleransi adalah rasa tidak aman. Saya tidak yakin dengan iman saya, maka begitu ada yang menghina iman saya, saya ngamuk. Saya tidak yakin dengan kekuatan pendapat saya. Maka ketika orang mendebat pendapat saya, saya langsung tersinggung dan marah.
Di sisi lain, toleransi digambarkan sebagai musuh juga yang harus diberantas, karena dia dianggap melemahkan iman dan keyakinan.
Padahal… Toleransi bukan pembiaran. ‘Biarkan orang mau apa aja… terserah masing-masing.’ Itu namanya tidak perduli, bukan toleransi.
Toleransi bukan penyeragaman. ‘Kalau saya toleransi sama kamu artinya saya harus jadi sama dengan kamu dalam segala hal…’ Tidak juga. Dalam kata ‘toleransi’ sendiri sudah ada unsur perbedaan. Kalau semua sama untuk apa diperlukan toleransi?
Toleransi bukan kompromi. kompromi adalah mengorbankan prinsip dan keyakinan demi perdamaian. Toleransi tidak demikian. Toleransi adalah: saya tetap berpegang pada keyakinan saya dan apa yang saya anggap benar (tidak kompromi), tetapi saya tidak akan memaksakan itu kepada kamu. Saya tetap bisa bersahabat dengan kamu. Jadi adalah mungkin bahwa saya tidak kompromi tapi tetap toleran.
Toleransi adalah kemampuan untuk menerima perbedaan: sifat, karakter, cara pandang orang lain yang berbeda dengan kita tanpa menghakimi.
Sekalipun demikian, paling tidak ada dua batas toleransi:
1. Perbuatan kriminal: kita tidak bisa mentolerir siapapun melanggar hukum negara. Hukum harus ditegakkan.
2. Perbuatan dosa: kita tidak akan memtolerir siapapun melanggar hukum Allah. Kebenaran harus ditegakkan.
Rasul Paulus mengajarkan toleransi dalam tubuh Kristus di Rom 14 yang tadi kita kutip. Jemaat Roma memiliki perbedaan. Mereka terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi. Secara otomatis, pasti ada perbedaan, tidak hanya secara ras, tapi juga cara pandang terhadap berbagai hal. Paling tidak ada dua contoh yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus: hari dan makanan.
Ada yang mengharamkan makanan tertentu. Ada yang mengagungkan hari tertentu. Kalau hal ini tidak ditangani, perpecahan bisa terjadi. Maka di akhir suratnya, Rasul Paulus memberikan pengertian akan bagaimana kita bisa hidup dalam toleransi dengan orang lain.
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.
Kita perlu menerima sesama kita, terutama orang yang lemah imannya. Jadi yang kita diminta terima ini adalah orang yang, biasanya, kita anggap nyebelin. Orang yang lemah iman biasanya banyak pantangannya, banyak protesnya, dan banyak bicaranya. Terimalah dia, tanpa perlu menerima pendapatnya. Sekalipun kita yakin kita bisa menghancurkan argumentasinya. Sekalipun kita tahu kelemahan pandangannya. Jangan didebat. Pendapatnya ngawur? Diam saja, jangan didebat. Kenapa tidak dibetulkan pandangannya? Karena ada bahaya kalau anda mulai mendebat: anda bisa jatuh ke dalam penghakiman.
Kata ‘mempercakapkan’ dalam bahasa Yunani adalah: diakrisis. Kata ini muncul di 1 Kor 12:10 dan Ibr 5:14. Diakrisis artinya menilai, menguji, menghakimi. Dalam Rom 14, jelas bahwa yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah soal menghakimi.
Terimalah orang lain. Kalau dia menganggap bahwa vegetarian lebih baik daripada orang yang makan daging, ya sudahlah. Pesenin salad buat dia, anda sendiri tetap pesan steak saja. Kecuali kalau dengan anda makan steak, dia jadi tersandung, ya jangan pesan steak. Tunggu dia pulang, baru anda makan steak.
15 Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.
Kita harus bisa membedakan mana yang prinsipil dan mana yang non-prinsipil.
17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Ingatlah, saudara kita yang lemah imannya itu umat Tuhan juga.
15… karena Kristus telah mati untuk dia.
Marilah kita hidup dalam perdamaian satu dengan yang lain.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT