Image Background
header
Umum W A L A U  (2)
W A L A U (2)
2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
4 Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
Habakuk 1:2-4

Pada tahun 2010, 3 peneliti dari AS dan Israel memutuskan untuk menguji apakah benar kata orang bahwa keadilan adalah bergantung kepada ‘apa yang hakim makan waktu sarapan’. Para peneliti ini memeriksa keputusan 8 hakim dalam lebih dari 1.100 keputusan tentang pengajuan pembebasan bersyarat. Penelitian ini memeriksa keputusan hakim yang terjadi selama 10 bulan. Hasil penelitian secara gamblang membawa mereka tiba pada kesimpulan ini: kemungkinan seorang napi mendapat pembebasan bersyarat adalah tergantung jam berapa kasusnya diputuskan. Kalau keputusan diambil pagi hari sesudah hakim sarapan, kemungkinan besar (65%) pembebasan dikabulkan. Sesudah itu kemungkinan dikabulkan terus turun. Nanti setelah hakim selesai snack, keputusan pengabulan naik lagi. Setelah itu turun, lalu naik lagi ke angka 65% sesudah para hakim makan siang. Itulah keadilan versi manusia.
Hakim terpengaruh oleh situasi perutnya, tapi juga terpengaruh oleh situasi di dalam dan di halaman depan gedung pengadilan. Kalau di halaman sana riuh dengan ribuan orang yang mengancam akan rusuh kalau keinginan mereka tidak dikabulkan, keadilan akan kalah, seperti kata Habakuk: orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
Yang harusnya ada di luar penjara, malah ada di dalam. Yang harusnya di dalam penjara, malah ada di luar. Yang harusnya bebas, malah dihukum. Yang harusnya dihukum, malah bebas.
Habakuk melihat ketidakadilan dan kekerasan di mana-mana di negaranya, Kerajaan Yehuda. Maka dia berteriak, kencang sekali. Sebab dia bukan berteriak kepada hakim dunia, tetapi kepada Sang Hakim di surga. Habakuk menuntut keadilan… Dan Sang Hakim menjanjikan keadilan; tetapi bukan keadilan versi nabi kecil ini. Keadilan yang diberikan adalah keadilan sejati dari Sang Hakim atas segala hakim.
Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. (Hab 1:5)
Keadilan dari Sang Hakim sangat mengagetkan:
Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka. (Hab 1:6)
Tuhan melakukan keadilan dengan membangkitkan orang Kasdim atau Babel yang terkenal kejam luar biasa untuk menyerbu Kerajaan Yehuda sebagai balasan atas kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di sana.
Habakuk protes. Kenapa Tuhan memakai bangsa yang begitu kejam untuk menjalankan keadilan di Yehuda?
Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia? (Hab 1:13)
Di pasal 2, Tuhan lalu memberikan jaminan kepada Habakuk bahwa bangsa Kasdim/Babel sendiri juga akan dihakimi.
Maka Habakuk menenangkan dirinya dan memutuskan untuk percaya akan keadilan Tuhan. Pernyataan iman Habakuk di pasal 3 sangat indah sehingga dibuat menjadi nyanyian masa kini.
17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, 18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. 19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku… (Hab 3:17-19)
Ada dua jenis iman: IMAN KALAU dan IMAN WALAU.
IMAN KALAU adalah iman yang bergantung kepada situasi atau hasil tertentu. Dia muncul belakangan setelah situasi atau hasil ketahuan. Kalau situasi bagus, dia percaya. Kalau hasil bagus, dia beriman. Contoh: kalau doa saya dikabulkan, saya akan bertobat.
Apakah IMAN KALAU adalah salah? Tidak juga; kebanyakan orang bermula dari iman ini. Tetapi kita harus naik ke IMAN WALAU.
IMAN WALAU adalah iman yang tidak bergantung kepada situasi atau hasil tertentu. Dia muncul di awal sebelum situasi atau hasil ketahuan. IMAN WALAU adalah komitmen. Situasi bagus atau tidak bagus, dia percaya. Hasil menguntungkan atau merugikan, dia tetap yakin.
WALAU doa saya belum dijawab, saya tetap percaya Tuhan mendengar doa saya…
WALAU apa yang saya inginkan tidak terjadi, saya tetap yakin akan penyertaan Tuhan…
WALAU…
WALAU…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT