Image Background
header
Umum W A L A U
W A L A U
"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Rat 3:22-23
Saya bisa membaca kata-kata di atas berulang-ulang, tanpa pernah bosan. Kata-kata yang menggetarkan, mengharukan, menguatkan, membangkitkan harapan. Demikian kuatnya kata-kata ini, sehingga di tengah-tengah perenungannya, penulisnya (nabi Yeremia) tidak tahan untuk berseru kepada TUHAN: besar kesetiaan-Mu!
Kekuatan kata-kata ini muncul karena, salah satu sebabnya, dicatat di satu kitab yang namanya Ratapan. Ibarat bunga teratai mekar elok di tengah kolam lumpur, keindahan kata-kta pengharapan ini muncul justru karena adanya di kedalaman kolam airmata. Di tengah-tengah kesusahan dan airmata kita, ternyata rahmat dan kebaikan Tuhan tak habis-habis, masih ada, bahkan SELALU baru setiap pagi!
Ketika saudara sedang terpuruk, ‘nyungsep’ tak berdaya, bacalah kata-kata ini!
Ketika saudara lagi ‘kelelep’ hampir tenggelam dalam masalah, bacalah kata-kata ini!
Ketika saudara hampir tidak kuat, terhuyung-huyung memikul beban, bacalah kata-kata ini!
Ketika tuduhan dan kritikan datang bertubi-tubi, rasanya ingin lari, bacalah kata-kata ini!
Sebab di balik kata-kata ini ada pesan: KESETIAAN DARI TUHAN ALLAH KITA.
Supaya kita bisa memahami ini dengan baik, mari kita bandingkan TUHAN, Allah Israel dengan para allah atau dewa-dewi Yunani, penjajah Israel pada tahun 332 sM – 164 sM. Para dewa Yunani ini kelakuannya mirip manusia. Zeus alias Yupiter, kepala para allah atau dewa ini, sering sekali berselingkuh. Dewa-dewa lain sebelas dua belas alias sami mawon. Mereka bisa berbohong dan sering kali tidak bisa diandalkan. Ada suatu perbedaan langit dan bumi antara sembahan orang Israel dan sembahan orang Yunani waktu itu.
Kesetiaan Allah, menurut kitab Ratapan, dinyatakan melalui beberapa hal:
1. Kasih setia yang tak berujung.
2. Rahmat alias belas kasihan Tuhan yang tak pernah habis.
3. Rahmat-Nya tidak hanya tidak pernah habis, tetapi selalu baru setiap pagi.
Kesetiaan Allah ini bisa kita andalkan dan pegang setiap hari. Setiap hari baru adalah kesempatan: kesempatan utk menikmati rahmat yang baru dari surga.
Karena itu, hidup seorang anak Tuhan seharusnya bebas dari kekuatiran. Kekuatiran bisa berupa kekuatiran akan hal-hal yang mendasar seperti makan dan minum dan pakaian. Kira-kira besok saya akan makan ngga ya? Yang demikian tidak perlu dikuatirkan.
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. (Mat 6:31-32)
Termasuk juga kekuatiran kita akan masalah kehidupan, rumah tangga, bisnis, masa depan bahkan kekuatiran akan ditinggalkan oleh Tuhan! Semua itu tidak harus ada dalam hidup orang percaya.
Memang kita semua sudah membaca perintah Tuhan di Matius ini, tetapi kekuatiran selalu menjadi pergumulan banyak orang Kristen. Kenapa? Karena tidak percaya. Itulah akar masalahnya: kita tidak percaya akan kuasa dan kasih setia Bapa kita yang di surga. Kata ‘TAPI’ adalah kata yang sering kali muncul dan menjadi bahaya:
Memang Dia berjanji akan menyertai, TAPI…
Memang Dia Bapa yang baik, TAPI…
Memang Yesus mati buat saya, TAPI…
Demikianlah kata TAPI menjadi sandungan untuk banyak orang. Di dalam kata ini ada unsur mempertanyakan semua janji Tuhan.
Maka saya mengajak saudara semua untuk mengubah kata TAPI dengan kata WALAU.
WALAU situasi saya belum berubah, saya percaya akan janji Allah.
WALAU doa saya belum dijawab, saya pegang teguh firman-Nya.
WALAU saya belum melihat pertolongan Tuhan, saya percaya Dia setia, tidak akan meninggalkan saya.
WALAU saya masih bergumul, saya yakin akan penyertaan-Nya.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT