Image Background
header
Umum WATCH YOURSELF !
WATCH YOURSELF !
AWASILAH DIRIMU

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. 1 Tim 4:16

Socrates dari kota Konstantinopel (sekarang Istanbul), seorang sejarahwan Gereja, bercerita tentang seseorang yang datang kepadanya dan meminta kepadanya untuk mengajari kitab Mazmur atau sebagian dari Alkitab. Socrates mulai membacakan kitab Mazmur pasal 39, “... Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku…“ (Mzm. 39:2). Melewati bagian ini, tiba-tiba Pambo, nama orang itu, menutup Alkitab lalu pergi sambil berkata bahwa ia akan belajar bagian itu terlebih dahulu.
Socrates menunggu dan menunggu Pambo, namun dia tidak muncul. Akhirnya, suatu hari Socrates bertemu dia secara tidak sengaja dan ditanyai ke mana saja dia selama ini. Pambo berkata bahwa ia sedang mempelajari bagian pertama dari ayat itu. Empat puluh lima tahun kemudian ketika seseorang bertanya kepadanya mengapa ia tidak belajar bagian Alkitab lainnya juga, Pambo selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Ini adalah pelajaran yang paling berat baginya!
Pambo adalah contoh orang yang mengawasi dirinya sendiri, terutama mulutnya.
Rasul Paulus memberikan nasihat kepada anak rohaninya, Timotius. Ada banyak nasihat yang dia berikan yang patut kita perhatikan, terutama bagi anak-anak muda. Semua nasihat ini bisa disimpulkan dalam ayat yang kita kutip di atas: Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu… Perhatikan yang tidak disebut. Tidak disebut ‘awasilah orang lain’. Kenapa? Karena mengawasi orang lain dilakukan dengan mengawasi diri sendiri dan mengawasi ajaran. Kalau diri sendiri beres, dan ajaran beres, orang lain akan diberkati.
Beberapa orang keberatan dengan ayat di Timotius ini karena kesannya mengandalkan kekuatan manusia. Kenapa Paulus tidak mengajar Timotius supaya berdoa saja, minta Tuhan yang mengawasi dirinya dan ajarannya? Kenapa harus kita yang menjaga diri kita? Kok tidak rohani sekali?
Pembaca, hidup jangan terlalu di awang-awang sehingga tidak mendarat di bumi. Hidup jangan lari dari realita. Hidup juga jangan ‘sok rohani’ tapi melawan Firman Tuhan.
Perhatikanlah ayat terkenal ini: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)
Siapa yang harus menjaga hati? Kita sendiri. Kenapa bukan Tuhan? Yang bicara begini juga Tuhan melalui Alkitab.
Kita harus memperhatikan beberapa hal ini:
 bahwa ada hal yang menjadi bidangnya Tuhan dan ada yang menjadi bidangnya manusia. Yang bidangnya Tuhan jangan kita campuri, yang bidangnya manusia jangan kita hindari dengan alasan rohani (biar Tuhan yang bekerja…). Memang Yesus ajar kita berdoa: janganlah membawa kami ke dalam pencobaan… tetapi beberapa orang justru sengaja mencari godaan. Sudah tahu di sana tempatnya setan, tapi masih didatangi juga…
 bahwa Tuhan juga bekerja melalui kejadian sehari-hari (Rom 8:28). Tuhan tidak selalu bekerja dengan hal-hal yang menakjubkan dan heboh. Dia tidak selalu muncul dalam gempa, api raksasa atau angin topan. Dia juga muncul dalam angin sepoi-sepoi (pengalaman Elia di gunung Horeb di1 Raj 19)
“Awasilah dirimu sendiri…” adalah nasihat yang pas untuk jaman ini. Bagian dari pengawasan ini mencakup:
1. Awasilah pergaulanmu – siapa temanmu? Apakah pergaulanmu membawa kamu semakin baik? Semakin dekat dengan Tuhan? Atau justru sebaliknya? Pergaulan yang jahat harus dipotong sampai ke akar-akarnya, yaitu sampai tidak ada hubungan lagi sama sekali. Nasihat Mazmur 1:1 tetap berlaku: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2. Awasilah pikiranmu – pikiran adalah ibu dari perbuatan. Dari pikiran berlanjut ke perbuatan. Apa yang menjadi pikiranmu setiap hari? Apakah hal-hal yang baik atau hal-hal yang jahat? Rasul Paulus memberi kita pedoman di Fil 4:8: (8) Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
3. Awasilah mulutmu – kata pepatah: mulutmu harimaumu. Banyak orang termakan oleh omongannya sendiri. Mulut dan kata-kata kita menjadi jebakan buat kita. Apa yang kita omongkan sekarang bisa menjadi penyesalan di kemudian hari. Jangan suka menjelekkan orang. Jangan mengucapkan kata-kata negatif. Jangan gosip. Jangan memaki. Banyaklah mengucap syukur.
4. Awasilah tingkah lakumu – hukum tabur tuai masih berlaku sampai sekarang. Apa yang kita tabur akan kita tuai nanti. Apa yang sdr tabur sekarang? Apakah taburan yang baik atau jelek? Entah itu baik, entah itu jelek, kita sendiri yang akan menuai taburan itu.
Awasilah dirimu sendiri!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT