Image Background
header
Umum Y  A  Y  A  H
Y A Y A H
Mengucap syukurlah dalam segala hal,
sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tes 5:18)
Nggak kenal Yayah? Saya juga nggak kenal sih. Saya tahu tentang Yayah, orang Betawi warga Cipayung, dari koran ”Jakarta Globe” edisi 15 Nov 2008. Yayah adalah janda beranak satu. Umurnya 37 tahun. Suaminya meninggalkan dia begitu saja tanpa alasan setelah dia melahirkan anaknya. Yayah tinggal bersama anaknya di sebuah kamar yang disediakan oleh saudaranya. Padahal orang tuanya dulu memiliki tanah luas di pinggir jalan raya. Semuanya itu dipaksa jual dengan harga murah oleh orang yang memiliki koneksi pejabat.
Kehidupan berat sekali bagi Yahya dan anak tunggalnya. Kadang dia tidak makan supaya anaknya bisa makan. Seumur hidupnya, dia tidak pernah pergi keluar Jakarta. Ke Monas? Satu kali, waktu masih kecil dulu. Taman Mini Indonesia Indah? Satu kali. Kadang-kadang dia bisa ke pasar Ciracas dengan naik angkot gratis yang sopirnya dia kenal.
Yayah berjualan teh dan kopi di pinggir jalan ke para sopir angkot dan orang lewat. Penghasilan sehari? Rp 5.000,- - Rp 7.000,- per hari. Dari uang itu, Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,- dipakai beli sayur atau tahu tempe. Beras dikasih oleh tetangga.
BAGAIMANA PERASAANNYA TENTANG KEHIDUPANNYA?
Ini jawaban Yayah: BAHAGIA. BERSYUKUR ADA KERJA.
Whaattt?!!?? How can??!!
Hidup dari belas kasihan orang… Kadang makan kadang tidak… Tidak pernah jalan-jalan… Tidak pernah merasakan nikmatnya Island duck confit with warm foie gras, foie gras sorbet, beetroot, cocoa beans with a protruding pigeon leg immersed in Banyuls sauce on a bed of rucola and mesclun (yang ini saya juga belum pernah sih). Dan dia bilang dia bahagia!
Mungkin kita pikir Yahya ini kurang ambisi. Bisa jadi ini benar.
Mungkin kita nilai Yahya ini kurang wawasan. Bisa jadi ini benar.
Mungkin kita anggap Yahya kurang pendidikan. Bisa jadi ini benar.
Tapi saya yakin satu hal dia tidak: Dia tidak bohong ketika dia berkata dia bahagia dan bersyukur.
Orang bijak berkata begini: Anda bersyukur, maka anda bahagia; bukan anda bahagia maka anda bersyukur. Dengan kata lain: bersyukur dulu, bahagia menyusul, bukan sebaliknya.
Saya rasa ini pernyataan yang mendalam. Dan ini akan menentukan prioritas hidup kita.
Kalau pemikirannya adalah kita bahagia baru kita bersyukur, maka kita akan mengejar kebahagiaan. Di jaman now ini, ada tersedia ribuan metode, teknik dan cara untuk mencapai kebahagiaan. Menurut majalah Psychology Today, pada thn 2008 ada 4.000 buku yang diterbitkan dengan topik kebahagiaan. Delapan tahun sebelumnya, tahun 2000, hanya ada 50 buku yang diterbitkan dengan topik yang sama. Melonjak 80 kali lipat dalam waktu 8 tahun! Rupanya manusia makin tekun mencari kebahagiaan. Bagaimana kalau kita tidak berhasil mengejarnya? Kita tidak akan bisa bersyukur, sekaligus tidak bisa bahagia. Pengejaran yang berlebihan akan kebahagiaan justru membuat orang tidak bahagia.
Kalau pemikirannya adalah bahwa kita bersyukur, maka kita akan bahagia, maka kita akan berfokus pada rasa syukur. Dan ini jauh lebih mudah daripada mengejar kebahagiaan. Di sini, kebahagiaan adalah akibat atau hasil dari bersyukur. Dia tidak perlu dikejar atau dicari, cukup kita bersyukur saja, maka kebahagiaan akan mendatangi kita.
Tujuh langkah supaya gampang bersyukur:
1. Ubah cara pandang: lihat apa yang kita punya, bukan apa yang kita tidak punya. Banyak orang sudah punya banyak hal, tapi masih melihat apa yang belum dia miliki. Sudah punya rumah, tapi baru satu, belum punya dua. Sudah punya rumah dua, tapi masih belum punya apartemen. Sudah punya apartemen, tapi belum punya villa. Sudah punya villa, tapi masih belum punya pulau. Dan seterusnya…tidak akan ada habisnya. Kita harus melihat apa yang kita sudah punya dan bersyukur.
2. Inginkan apa yang anda sudah miliki daripada menginginkan apa yang anda belum miliki. Banyak orang sudah punya banyak, tapi mereka tidak menginginkan apa yang mereka sudah miliki itu. Mereka anggap itu semua tidak berharga, sudah bosan, sudah tua bla… bla… akibatnya mereka masih mencari yang baru. Termasuk: mebel baru, mobil baru, istri baru,
3. Hidup jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Kalau anda hanya hidup memikirkan diri sendiri, anda akan menjadi orang yang tidak menyenangkan. Orang akan menjauhi anda. Anda akan menjadi kesepian dan gampang depresi. Tapi ketika anda mulai membuka mata dan memperhatikan ke orang lain, anda mengembangkan empati, dan itu membuat anda gampang bersyukur.
4. Belajarlah berbagi dan memberi. Ini bukan melulu berbicara tentang uang. Ini bisa saja berbagi senyum, berbagi tawa, berbagi makanan, dll.
5. Ucapkan terima kasih kepada orang-orang. Terkadang kita merasa orang-orang melakukan apa yang memang sudah tugas mereka, jadi tidak usah berterima kasih. Termasuk pelayan resto, petugas parkir, kasir di bank, suami/istri di rumah. Cobalah untuk berterima kasih, anda akan jadi gampang bersyukur.
6. Lihatlah kebaikan dalam segala hal, termasuk hal yang tidak baik sekalipun. Dalam segala hal apapun, selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari dan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
7. Hitunglah berkatmu. Setiap malam, carilah 3 hal yang patut disyukuri sepanjang hari, dan naikkanlah doa syukur kepada Tuhan untuk 3 hal ini.
Hari ini saya bersyukur untuk guru saya, Yayah, yang mengajar saya untuk terus bersyukur dalam segala keadaan.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT