Image Background
header
Umum S  A  L   I   B
S A L I B
Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: …
(1 Kor 1:22-23)

Tidak terlalu jelas bangsa mana yang menemukan cara menghukum mati dengan penyaliban. Dua yang disebut adalah bangsa Persia dan Kartago (daerah Libya sekarang). Bangsa Romawi kemudian mengadopsi penyaliban, dan selama 500 tahun mereka menyempurnakan teknik hukuman mati ini untuk mencapai tujuan penyaliban. Apa tujuan penyaliban? Penyaliban dilakukan untuk memberikan efek jera alias kapok: membuat yang disalib mati kapok dan yang menonton ikut kapok.
Penyaliban dilakukan terhadap pelaku kejahatan yang keji. Jadi, tukang copet dan maling ayam di pasar Yerusalem tidak akan dihukum dengan salib kalau mereka terbukti berbuat kejahatan yang dituduhkan.
Untuk mencapai tujuan itu, penyaliban memiliki beberapa ciri:
MENYAKITKAN: tidak ada cara menghukum mati yang begitu menyakitkan seperti salib. Terhukum biasanya dicambuk sebanyak 40 kali sebelum disalibkan. Kalau sang algojo mencambuk lebih dari 40 kali, dia sendiri yang akan dicambuk 40 kali. Maka para algojo ini pintar juga, mereka biasanya berhenti pada angka 39 kali; siapa tahu salah hitung, dikira mencambuk 40 kali padahal sudah 41 kali, bisa menyesal seumur hidup.
Cambuknya adalah tali yang ujungnya memakai pecahan tulang atau besi. Jadi, satu kali saja cambuk mendarat di punggung, darah sudah mengalir. Bayangkanlah kalau dicambuk 39 kali; punggung sang terhukum sudah menjadi hancur berdarah-darah.
Tapi bukan hanya itu, darah yang hilang membuat sang terhukum mengalami hypovolemic shock. Jantung memompa tapi volume darah sudah berkurang, sehingga beberapa organ tubuh mengalami gangguan fungsi karena kurang mendapat darah.
Setelah itu, sang terhukum dipaksa memikul salib yang akan dipakai untuk membunuh dia. Dua potongan kayu salib beratnya sekitar 135 kg; kalau hanya yang horisontal saja (namanya patibulum dalam bahasa Latin) beratnya sekitar 45 kg. Bagi orang yang sudah berdarah-darah setelah dicambuk berkali-kali, mengangkat kayu berat itu sambil naik bukit sungguh merupakan siksaan berat.
Sepanjang jalan menuju tempat penyaliban, orang-orang berjejer-jejer melihat sang terhukum tertatih-tatih dan jatuh berkali-kali dalam perjuangannya memikul alat hukuman matinya itu.
Setelah tiba di lokasi penyaliban, sang terhukum dibaringkan di atas kayu salib, lalu dipaku tangan dan kakinya. Karena jaman itu, besi masih jarang dan harganya mahal, maka paku salib sering dipakai ulang. Jadi begitu sang terhukum mati, paku besi dicabut untuk dipakai lagi.
Ketika salib dinaikkan, kesakitan baru muncul lagi. Tangan sang terhukum akan copot dari soket di bahunya. Selain itu, terhukum harus bernafas sementara disalibkan. Ini membuat dia harus bolak-balik mengangkat tubuhnya untuk bernafas. Dia hanya bisa bertumpu pada 3 atau 4 paku besi di tangan dan kakinya. Terkadang luka di kaki begitu besar atau tambah besar, sehingga kaki sang terhukum bisa terlepas dari paku, tapi dalam keadaan sudah berlubang besar.
Bahasa Inggris memiliki satu kata untuk menggambarkan kesakitan yang amat sangat: excruciating pain. ‘Excruciating’ adalah dari kata ‘ex’ (dari) dan ‘Crucifix’ (salib). Rasa sakit yang muncul dari salib.
LAMA: dibandingkan dengan cara hukuman mati yang lain, penyaliban adalah salah satu yang paling lama, karena sering berlangsung berhari-hari. Sejauh ini, rekor paling lama disalib yang tercatat adalah 7 hari. Biasanya terhukum sudah mati sebelum itu. Kesulitan bernafas adalah penyebab utama. Selain itu, tentara Romawi yang menjadi tidak boleh pulang sebelum terdakwa mati. Maka, supaya bisa pulang cepat, mereka sering kali mempercepat kematian dengan mematahkan kaki terhukum (sehingga mereka tidak bisa lagi mengangkat badan mereka untuk bernafas) atau dengan menusuk jantung mereka.
MEMALUKAN: sang terhukum dibuat menjadi tontonan orang ramai. Penyaliban selalu dilakukan di muka umum. Selain itu sang terhukum juga disalibkan dalam keadaan telanjang. Sungguh sangat amat terhina orang yang disalibkan!
Tapi kata Paulus: kami memberitakan Kristus yang disalibkan:…
Sesuatu yang hina dan memalukan sekarang menjadi obyek utama pemberitaan.
Sesuatu yang terlihat kalah sekarang menjadi simbol kemerdekaan.
Kenapa? Karena apa yang terjadi pada salib Kristus.
Ribuan orang mati disalibkan. Salib mereka adalah salib sia-sia. Salib Kristus tidak sia-sia.
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1 Pet 2:24)
Dosa kita telah dipikul oleh Kristus di kayu salib. Karenanya, kita sekarang bisa hidup benar. Haleluyah!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT